Home

 

Perokok di Indonesia


Negara-negara dengan konsumsi
tembakau tertinggi:

2002
Cina 1,697,291
Amerika 463,504
Rusia. 375,000
Jepang 299,085
Indonesia 178,300
Jerman 148,400
Turki 116,000
Brasilia 108,200
Itali 102,357
Spanyol 94,307

Indonesia mengalami peningkatan tajam konsumsi tembakau dalam 30 tahun terakhir: dari 33 milyar batang
per tahun di tahun 1970 ke 217 milyar batang di tahun 2000. Antara tahun 1970 dan 1980,konsumsi meningkat sebesar 159 %. Faktor-faktor yang ikut berperan adalah iklim ekonomi yang positif dan mekanisasi produksi rokok di tahun 1974. Antara tahun 1990 dan 2000, peningkatan lebih jauh sebesar 54% terjadi dalam konsumsi tembakau – walaupun terjadi krisis ekonomi. Sedangkan jumlah penduduk Indonesia dalam sensus 2010 adalah 237,6 juta jiwa
Terlihat bahwa perbandingan perokok pria dan wanita mencapai rasio 19:1
.

Prevalensi Merokok
Hampir satu dari tiga orang dewasa merokok. Prevalensi merokok di kalangan orang dewasa
meningkat ke 31,5% pada tahun 2001 dari 26,9 % pada tahun 1995 Lebih dari 6 dari 10 pria merokok, namun sedikit wanita yang merokok. Pada tahun 2001,62,2% dari pria dewasa merokok,dibandingkan dengan 53,4 % pada tahun 1995. Hanya 1,3% wanita dilaporkan merokok secara teraturpada tahun 2001. Lebih banyak pria di pedesaan yang merokok. Prevalensi merokok di kalangan pria dewasa di pedesaan adalah 67,0 % dibandingkan dengan 58,3 % di perkotaan. 73% pria tanpa pendidikan formal merokok.
Lebih dari 7 dari 10 (73%) pria tanpa pendidikan formal merokok, dibandingkan dengan 44,2% pada mereka yang tamat SLTA.
Pria berpenghasilan rendah:
prevalensi lebih tinggi namun konsumsi lebih rendah. Makin rendah penghasilan, makin tinggi prevalensi
merokoknya.

Umur Mulai Merokok
Sebagian besar (68,8%) perokok mulai merokok sebelum umur 19 tahun, saat masih anak-anak atau remaja.
Rata-rata umur mulai merokok yang semula 18,8 tahun pada tahun 1995 menurun ke 18,4 tahun pada tahun 2001. Prevalensi pria perokok meningkat cepat setelah umur 10 sampai 14 tahun. Prevalensi merokok pada pria meningkat cepat seiring dengan bertambahnya umur: dari 0,7% (10-14 tahun), ke 24,2 % (15-19 tahun),
melonjak ke 60,1 % (20-24 tahun). Remaja pria umur 15-19 tahun mengalami peningkatan konsumsi sebesar 65% antara 1995 dan 2001 – lebih tinggi dari kelompok lain manapun.

"Sesuai data Indonesia Tobacco Control Network (ITCN), proporsi perokok pemula remaja tersebut terus meningkat yang diikuti kelompok umur 5-9 tahun yang persentasenya naik dari 0,4 persen pada tahun 2001 menjadi 1,8 persen tahun 2004," kata Prof Dr Veni Hadju, PhD, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin, Makassar, Senin.

Ia mengemukakan informasi tersebut saat tampil sebagai pembicara pada pertemuan evaluasi "Leadership dan Management for Tobacco Control" yang diselenggarakan oleh Jaringan Pengendalian Dampak Tembakau Indonesia di Hotel Sahid, Makassar.

Menurut dia, kondisi tersebut sangat memprihatinkan karena remaja menjadi sasaran utama calon konsumen jangka panjang.

Komisi Nasional Perlindungan Anak menyebut jumlah perokok pemula anak-anak naik 45 persen. Menurut anggota Komnas Perlindungan Anak, Heri Heriansyah, di Jakarta, belum disahkannya RUU Pengendalian Dampak Tembakau oleh DPR menjadi salah satu penyebab utama melonjaknya jumlah perokok pemula ini.
Indonesia, menurut Heri, merupakan negara di Asia Tenggara yang harga rokoknya paling murah yaitu 10.000 rupiah per bungkus, sedangkan di Singapura harga rokok telah mencapai 80.000 per bungkus.
Indonesia merupakan negara yang menerapkan cukai rokok terendah nomer 2 di dunia setelah Kamboja, menyebabkan harga rokok amat terjangkau, termasuk bagi anak-anak. Selain itu, iklan rokok yang tidak diatur secara tegas, menurut Heri, juga menjadi penyebab meningkatnya jumlah perokok pemula.

Harga rokok yang amat terjangkau akibat cukai yang murah, menurut Komnas Perlindungan Anak, menjadi salah satu penyebab banyaknya perokok muda.Harga rokok yang amat terjangkau akibat cukai yang murah, menurut Komnas Perlindungan Anak, menjadi salah satu penyebab banyaknya perokok muda.
"Strategi industri rokok adalah menggiring anak-anak untuk merokok, macho, keren, gaul. Bagi anak-anak yang dalam kondisi psikologis yang sedang mencari jati diri, ini lalu menjadi panutan," tutur Heri.
Data dari Komnas Perlindungan Anak ini menyebutkan di Indonesia terdapat 1.172 orang meninggal setiap harinya akibat merokok. Selain itu, menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia memiliki jumlah perokok ketiga terbanyak di Asia, dengan sekitar 150 juta penduduknya adalah perokok.
Selain mengesahkan RUU Pengendalian Dampak Tembakau, Ketua Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Laksmiati A. Hanafiah, meminta Indonesia segera meratifikasi konvensi pengendalian tembako yang sudah dilakukan oleh 108 negara. Hal ini untuk mencegah semakin meningkatkan jumlah perokok pemula di masa yang akan datang.

 
Pandangan Agama Buddha tentang Rokok
Rokok adalah sejenis obat penenang ringan. (obat penenang jenis berat
adalah morphin yang mampu memabukkan, membius atau membuat orang tidak
sadar). karena sifatnya yang ringan, rokok tidak termasuk barang yang
membuat lemahnya kesadaran secara berkelanjutan dalam waktu lama, apalagi
membuat hilangnya kesadaran.
Di sisi lain, rokok bersifat mencandui, yaitu membuat pengguna ketagihan,
membuat ketergantungan padanya. Mengacu pada sila kelima dalam Pancasila
buddhis, istilah 'ketagihan' ini tidak termasuk dalam cakupan sila itu,
karena, yang tersebut di sana adalah 'barang/minuman yang memabukkan'
bukan 'barang/minuman yang membuat ketagihan'.

karena ciri yang demikian ini, rokok menurut kriteria sila dalam Agama
Buddha, sehingga riskan dikategorikan sebagai benda yang menjadi objek
pelanggaran sila kelima dalam Pancasila buddhis. Waaupun secara tidak langsung, ia juga telah melanggar sila Jangan Membunuh (karena ia memberi penyakit pada orang lain di sekitarnya) dan termasuk juga tindakan bunuh diri.

Hanya saja, dalam tubuh Ajaran, Agama Buddha tidak mengajarkan tentang
sila saja. Dalam arti lain, ada ajaran-ajaran lain dalam Agama Buddha yang
bersifat lebih halus lagi. Untuk mendapatkan manfaat yang lebih tinggi
bagi diri sendiri, seseorang memang sepatutnya melaksanakan Dhamma/Ajaran
Sang Buddha yang lebih halus itu. Rokok, meskipun berkadar kecil, tetap
mengandung zat penenang, yang mana kalau tidak amat diperlukan, semestinya
seseorang memilih untuk tidak menggunakannya. Lagi pula, rokok bersifat
mencandui, membuat ketergantungan padanya. Ini sedikit banyak akan
berpengaruh dalam membina diri mendapatkan manfaat bagi diri sendiri dalam
ajaran Dhamma yang lebih halus/luhur.

Namun, dalam hal ini, Agama Buddha atau Sang Buddha tidak memaksakan
ajaran-Nya untuk dilaksanakan oleh pemeluknya. Beliau sekadar membeberkan
apa yang benar dan salah, yang baik dan yang buruk, serta yang bermanfaat
dan yang merugikan bagi orang. Orang secara hormat, yakin, sadar, dan
bijak melakukan hal-hal yang bisa mendatangkan manfaat bagi dirinya
melalui Ajaran Sang Buddha itu. Dan tentunya, itu masih didasarkan pada
tingkat kekuatan atau kemampuan dan kelegaan tiap-tiap orang.
Seseorang dalam bertekad melaksanakan Pancasila, dapat membuat tekad
dengan ketat SECARA PRIBADI (artinya: tidak menerapkannya ke orang lain),
yaitu salah satunya tidak mengkonsumsi rokok, karena bagaimanapun rokok
mengandung zat penenang ringan. Dan dalam bertekad melaksanakan Dhamma, ia
dapat menghindarinya karena tindak itu termasuk pemuasan emosi, terlebih
lagi berdampak ketagihan. Satu hal yang dianggap wajar seseorang dalam
berlatih melaksanakan Dhamma, masih harus memuaskan emosi inderawinya.
Namun, objek pemuasan emosi inderawi itu amatlah banyak ... tidak harus
rokok. Karena, selain sisi negatif seperti disebutkan di atas, rokok masih
mengandung sisi negatif lain ditinjau dari segi sosial kemasyarakatan.

Seorang Buddhis yang merokok menyatakan bahwa pembinaannya masih kurang, dan menunjukkan kemelekatan pada dunia, karena ia tetap melakukannya untuk kenikmatan pribadi walaupun mengetahui efek efek negatif dan larangan merokok. Sila, sutra, dan vinaya bersifat menunjukkan jalan, sehingga yang akhirnya memilih jalan yang akan ditempuhnya sesungguhnya manusia itu sendiri.


Sumber:
Data Konsumsi dan Prevalensi merokok Litbang
Data konsumsi Tembakau dan Prevalensi merokok Litbang
Berita tentang rokok di Liputan 6
Jumlah penduduk Indonesia berpotensi ketiga terbesar di dunia
80% Perokok Indonesia dibawah 18 tahun
Jumlah Perokok Pemula melonjak 45%
Pandangan Agama Buddha tentang Rokok

Label:


19.49

posted by Lisa Santika Onggrid | 0 comments

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar anda untuk memberi masukan pada blog ini. Gunakan kata kata yang sopan, dan mohon maafkarena komentar anda akan dimoderasi.






thank you!
Link menuju tugas karya nyata saya.
Daftar Karya Nyata yang sudah selesai:

The Lone Tree
Celestial Burial
Mother Ocean
When I close My Eyes
River's Tale
Chain of Karma
World in Their Eyes
I Wish
Kehancuran
Green Future




Blog ini akan berisi tugas tugas dan hasil karya saya untuk mata pelajaran PLH. Silahkan gunakan bar navigasi yang ada untuk berkeliling. semoga para pengunjung dapat memberikan saran saran untuk perbaikan blog ini dengan meninggalkan komentar atau mengisi chatbox yang tersedia.

Template saya buat dengan Notepad,Dreamweaver, dan Photoshop, dengan gambar bumi dari Google dan layout dasar dari Wings of An Angel.

Kenapa saya meletakkan bar ini di samping sehingga harus discroll dulu? Ini untuk memberi pilihan jika seandainya anda tidak ingin melihat bar ini dan hanya berkonsentrasi pada konten anda bisa dengan mudah melakukannya.

Template-Emerald Lane made by Lisa Santika Onggrid-Some codes may belong to Wings of An Angel Manga Scanlations